oleh

Kerukunan Agama di Bangka Barat, Kelenteng dan Masjid Rukun Berdampingan

citizen.co.id Bangka – Di kota Muntok, Bangka Barat kelenteng dan masjid hidup rukun berdampingan. Inilah bukti kerukunan umat beragama di Bangka Barat. Seperti apa kisahnya?

Keberagaman yang ada di Kota Muntok menjadi daya tarik kota ini, dapat terlihat dari banyaknya etnis seperti Tionghoa, Melayu dan Arab yang hidup rukun dan berdampingan.


Dua bangunan tertua di Muntok menjadi saksi bisu keakraban dan kerukunan antar suku, agama dan ras, yakni Kelenteng Kong Fuk Miau dan Masjid Jami’.

Kabupaten Sumenep Mendapatkan Opini WTP dari BPK RI

Kuliner: Kopi Excelsa Wonosalam Minuman Primadoda Semua Kalangan

Bangunan ini juga menjadi ikon atau lambang kerukunan yang sudah terjalin sejak lama. Kelenteng Kong Fuk Miau dan Masjid Jami’ berlokasi dekat dengan terminal bus Kota Muntok tepatnya di Kampung Tanjung, Bangka Barat dan hanya dipisahkan oleh gang aspal sekitar 5 m.




Dari Kota Pangkalpinang dapat ditempuh kurang lebih dua setengah jam atau 138 km perjalanan darat menuju Muntok. Kelenteng Kong Fuk Miau diperkirakan dibangun pada tahun 1800-an pada masa Mayor Tan Jin Men.

Kelenteng ini merupakan salah satu kelenteng tertua di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kelenteng ini dibangun oleh para pekerja penambangan timah yang berasal dari Guang Dong dan Fu Jian, China.

Nama Kong Fuk sendiri berasal dari kata Kwang Tung (Guang Dong) dan Fuk Kian (Fu Jian) yang disingkat dan Miau memiliki arti rumah dewa. Bila digabungkan akan memiliki arti “Rumah Dewa/Kuil Orang Guang Dong dan Fu Jian”. Kelenteng ini dijadikan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi (cagar budaya).




83 tahun berselang, dibangunlah Masjid Jami’ pada 19 Muharram 1300 H pada masa pemerintahan Abang Muhammad Ali dengan gelar Temenggung Kartanegara II dan menjadi masjid tertua di Pulau Bangka.

MasjidJami’ dibangun secara gotong royong, bukan hanya melibatkan umatmuslim tetapi juga dibantu oleh masyarakat non-muslim, terutama warga etnis Tionghoa. Saling pengertian dan tenggang rasa merupakan kunci dari kerukunan masyarakat Bangka Barat.

Itu dapat terlihat dari hal-hal kecil seperti saling bertamu dan ikut meramaikan pada saat festival atau hari raya, juga dengan menggeser waktu ibadah.


Islam memiliki waktu wajib untuk beribadah sehingga kelenteng akan memajukan atau memundurkan ibadah karena tidak memiliki waktu ibadah. Perbedaan bukan menjadi penghalang dalam pertemanan, hanya perlu saling menghargai dan menghormati.(cz/bel)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed