oleh

Pertumbuhan Ekonomi di Surabaya Alami Kontraksi di Angka -4,85 persen

-BUSINESS-4 views

citizen.co.id Business – Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait grafik Kota Surabaya di tahun 2020 menyebutkan bahwa grafik pertumbuhan ekonomi di Surabaya mengalami kontraksi di angka -4,85 persen. Hal ini dikatakan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bappeko Kota Surabaya, Febrina Kusumawati saat menyampaikan paparan pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam rangka penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2021-2026 Kota Surabaya, Rabu (23/6/2021).

“Kontraksi ini juga dialami oleh hampir semua kabupaten/kota di Indonesia. Hal ini terjadi karena memang dampak dari adanya pandemi Covid-19,” kata Febri.


Febri menjelaskan, bahwa pihaknya sudah melakukan tahapan-tahapan koordinasi konsultasi publik untuk rancangan awal. Tentu ini dilakukan untuk memperkaya konsep-konsep yang menjadi penjabaran dari visi dan misi Wali Kota Surabaya.

Ngaku Punya Anak dari Rezky Aditya, W Minta Maaf ke Citra Kirana

Milenial Sintesa Berbagi Masker ke Pelosok Desa

“Tahap sekarang adalah melakukan Musrenbang RPJMD dan membuka kembali kanal saran seperti yang disampaikan bapak wali kota, bahwa semua yang hadir adalah pemilik Kota Surabaya,” kata Febri.


Lebih lanjut Febri mengatakan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Surabaya di tahun 2020 yang mencapai 190,90 juta.Persentase terbesar PDRB ada di sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang mencapai 149.246,76 dan disusul urutan kedua Industri Pengolahan 107.416,29 serta ketiga Penyediaan Akomodasi Makan dan Minum 85.618,58.

“Sedangkan pengangguran terbuka di Surabaya, pada tahun 2020 di angka 9,79 persen. Kemudian, persentase kemiskinan di tahun 2020 tercatat 5,02 persen dari tahun sebelumnya 4,51 persen,” jelasnya.

Grafik catatan selanjutnya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2020 yang naik di angka 82,23 persen, dari tahun 2019 di angka 82,22 persen. Menurut Febri, catatan IPM ini menunjukkan angka yang cukup optimal di tingkat Jatim dan Nasional.


“Alhamdulillah catatan IPM Surabaya di tahun 2020 di angka yang cukup optimal di Pemerintah Provinsi Jatim. Ini adalah angka perhitungan dari indeks kesehatan, pendidikan serta daya beli masyarakat,” kata dia.

Kemudian, Indek Pembangunan Gender di Surabaya pada tahun 2020, berada pada angka 93,58 persen. Sementara indeks GINI atau ukuran distribusi pendapatan di semua populasi, pada tahun yang sama berada di angka 0,34 persen. Lalu, untuk nilai kepuasan masyarakat pada tahun 2020 ini naik menjadi 86,05 persen dari tahun sebelumnya 83,92 persen.

“Peningkatan yang sama juga tercatat pada grafik indeks ketentraman dan ketertiban Surabaya di tahun 2020 berada di angka 1,77 persen dari tahun sebelumnya 1,75 persen,” paparnya.


Maka dari itu, Febri mengungkapkan, bahwa arah konsentrasi kebijakan di tahun 2022 adalah pemulihan ekonomi dan sosial melalui penguatan sektor strategis dan dukungan terhadap Usaha Mikro dan Sektor Informal. “Jadi di tahun 2022 kita fokuskan bagaimana pemulihan ekonomi dan sosial pasca terjadinya Covid-19,” ujarnya.

Selain itu, Febri menyebut, dalam RPJM ke depan, ada tujuh agenda pokok pembangunan di Kota Surabaya. Pertama yaitu Surabaya adalah Lapangan Kerja untuk Rakyat. Kedua yakni, Surabaya Generasi Cerdas. Ketiga, Surabaya Hidup sehat. Keempat, Surabaya Bersih Melayani dan Kelima Surabaya Maju Hijau Tertata.


“Sedangkan agenda pokok keenam yaitu Surabaya Peduli dan Harmonis serta ketujuh Surabaya Berbudaya dan Berkarakter,” pungkasnya. (cz/bel)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed